BREAKING
NEWS
Jokowi Terima Gelar Kehormatan Adat di NTT, Simbol Penghormatan terhadap Budaya dan Persatuan Bangsa 🔴 Dugaan Pemotongan Dana PIP di SMK Negeri 1 Nogosari Boyolali Jadi Sorotan, Pihak Terkait Diharapkan Berikan Klarifikasi 🔴 Pria Tewas Usai Dituduh Maling Ayam di Tabanan Bali, 5 Orang Jadi Tersangka Pengeroyokan 🔴 Rekomendasi Jasa Reklame di Jakarta Barat – Solusi Branding Profesional Bersama FerlindostAdvertising.com 🔴 Digital Printing & Cutting Sticker: Solusi Branding Modern untuk Bisnis di Era Visual 🔴 Jokowi Terima Gelar Kehormatan Adat di NTT, Simbol Penghormatan terhadap Budaya dan Persatuan Bangsa 🔴 Dugaan Pemotongan Dana PIP di SMK Negeri 1 Nogosari Boyolali Jadi Sorotan, Pihak Terkait Diharapkan Berikan Klarifikasi 🔴 Pria Tewas Usai Dituduh Maling Ayam di Tabanan Bali, 5 Orang Jadi Tersangka Pengeroyokan 🔴 Rekomendasi Jasa Reklame di Jakarta Barat – Solusi Branding Profesional Bersama FerlindostAdvertising.com 🔴 Digital Printing & Cutting Sticker: Solusi Branding Modern untuk Bisnis di Era Visual 🔴 Jokowi Terima Gelar Kehormatan Adat di NTT, Simbol Penghormatan terhadap Budaya dan Persatuan Bangsa 🔴 Dugaan Pemotongan Dana PIP di SMK Negeri 1 Nogosari Boyolali Jadi Sorotan, Pihak Terkait Diharapkan Berikan Klarifikasi 🔴 Pria Tewas Usai Dituduh Maling Ayam di Tabanan Bali, 5 Orang Jadi Tersangka Pengeroyokan 🔴 Rekomendasi Jasa Reklame di Jakarta Barat – Solusi Branding Profesional Bersama FerlindostAdvertising.com 🔴 Digital Printing & Cutting Sticker: Solusi Branding Modern untuk Bisnis di Era Visual 🔴
ADVERTISING CORONA SOLO RAYA DAERAH EKONOMI FINANCE HUKUM & KRIMINAL KULINER NASIONAL OTOMOTIF PARAWISATA PENDIDIKAN POLITIK PRESIDEN PROPERTI SEJARAH TEKNOLOGI ADVERTISING CORONA SOLO RAYA DAERAH EKONOMI FINANCE HUKUM & KRIMINAL KULINER NASIONAL OTOMOTIF PARAWISATA PENDIDIKAN POLITIK PRESIDEN PROPERTI SEJARAH TEKNOLOGI ADVERTISING CORONA SOLO RAYA DAERAH EKONOMI FINANCE HUKUM & KRIMINAL KULINER NASIONAL OTOMOTIF PARAWISATA PENDIDIKAN POLITIK PRESIDEN PROPERTI SEJARAH TEKNOLOGI ADVERTISING CORONA SOLO RAYA DAERAH EKONOMI FINANCE HUKUM & KRIMINAL KULINER NASIONAL OTOMOTIF PARAWISATA PENDIDIKAN POLITIK PRESIDEN PROPERTI SEJARAH TEKNOLOGI
â˜€ī¸ JAKARTA +32°C   ••   đŸŒ¤ī¸ Surabaya: Cerah Berawan 33°C   ••   đŸŒ§ī¸ Bandung: Hujan Ringan 24°C   ••   ⛅ Medan: Berawan 31°C   ••   â˜€ī¸ Makassar: Cerah 30°C   ••   â›ˆī¸ Palembang: Hujan Petir 27°C     |     â˜€ī¸ JAKARTA +32°C   ••   đŸŒ¤ī¸ Surabaya: Cerah Berawan 33°C   ••   đŸŒ§ī¸ Bandung: Hujan Ringan 24°C   ••   ⛅ Medan: Berawan 31°C   ••   â˜€ī¸ Makassar: Cerah 30°C   ••   â›ˆī¸ Palembang: Hujan Petir 27°C     |    
KUMPULAN ARSIP LIPUTAN

# SEJARAH

Menampilkan total populasi 6 laporan berita terverifikasi

Koperasi Merah Putih Merupakan Program Presiden Prabowo Subianto, Bukan Program Dimasa Pemerintahan Presiden Joko Widodo

Jakarta – Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) merupakan salah satu program strategis yang dijalankan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pembentukan puluhan ribu koperasi di desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. Secara hukum, program ini berlandaskan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 27 Maret 2025. Inpres tersebut memerintahkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa untuk mempercepat pembentukan sekitar 80.000 koperasi sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi desa. Program ini juga merupakan bagian dari visi pemerintahan Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan pangan, memperpendek rantai distribusi kebutuhan pokok, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui koperasi yang dikelola secara profesional. Tujuan Koperasi Merah Putih Pemerintah menetapkan sejumlah tujuan utama pembentukan Koperasi Merah Putih, di antaranya: Memperkuat ekonomi masyarakat desa dan kelurahan. Meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Memperpendek rantai distribusi sehingga harga kebutuhan pokok lebih terjangkau. Menyediakan layanan seperti sembako, simpan pinjam, pergudangan, logistik, klinik, hingga apotek sesuai kebutuhan daerah. Diluncurkan pada Masa Pemerintahan Presiden Prabowo Pada 21 Juli 2025, Presiden Prabowo secara resmi meluncurkan kelembagaan lebih dari 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Peluncuran tersebut disebut pemerintah sebagai langkah besar untuk menjadikan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat di seluruh Indonesia. Meluruskan Informasi Karena program ini mulai dibentuk melalui Inpres Nomor 9 Tahun 2025 dan diluncurkan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih merupakan program pemerintahan Presiden Prabowo, bukan program yang diluncurkan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun demikian, penyebutan ini tidak berarti menafikan adanya kebijakan perkoperasian atau pembangunan desa pada pemerintahan sebelumnya. Yang membedakan adalah program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai kebijakan nasional dengan nama, landasan hukum, dan pelaksanaannya memang dimulai pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subiant

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 29 Juni 2026 BACA ANALISIS »

Makam Raja-Raja di Kabupaten Karanganyar: Jejak Sejarah Dinasti Mangkunegaran

Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal karena keindahan alam di lereng Gunung Lawu, tetapi juga memiliki warisan sejarah yang sangat penting, yaitu kompleks makam para raja dan keluarga Pura Mangkunegaran. Berlokasi di Kecamatan Matesih, terdapat beberapa kompleks pemakaman bersejarah yang menjadi tujuan wisata religi dan sejarah, yaitu Astana Mangadeg, Astana Girilayu, dan Astana Giribangun. Ketiga kompleks ini menjadi saksi perjalanan panjang Dinasti Mangkunegaran hingga sejarah Indonesia modern. Astana Mangadeg Astana Mangadeg merupakan kompleks makam tertua di kawasan tersebut. Terletak di Bukit Mangadeg, Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, kompleks ini menjadi tempat peristirahatan para penguasa awal Pura Mangkunegaran. Beberapa tokoh penting yang dimakamkan di Astana Mangadeg antara lain: KGPAA Mangkunegara I (Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa). Mangkunegara II. Mangkunegara III. Kerabat kerajaan dan para pejuang yang setia kepada Dinasti Mangkunegaran. Sebelum menjadi raja, Raden Mas Said dipercaya sering bertapa di Bukit Mangadeg ketika memimpin perjuangan melawan VOC dan Kesultanan Mataram. Setelah wafat, beliau dimakamkan di lokasi tersebut sehingga Astana Mangadeg menjadi salah satu tempat yang sangat dihormati dalam sejarah Jawa. Astana Girilayu Sekitar tiga kilometer dari Astana Mangadeg terdapat Astana Girilayu, yang dibangun ketika kompleks Mangadeg mulai penuh. Astana ini menjadi tempat pemakaman para penguasa Mangkunegaran berikutnya. Beberapa raja yang dimakamkan di Astana Girilayu antara lain: Mangkunegara IV. Mangkunegara V. Mangkunegara VII. Mangkunegara VIII. Mangkunegara IX. Selain para penguasa, kompleks ini juga menjadi makam putra-putri dan keluarga besar Mangkunegaran. Letaknya berada di puncak Bukit Girilayu dengan suasana yang tenang dan sejuk, sesuai tradisi Jawa yang menempatkan makam para raja di kawasan perbukitan. Astana Giribangun Tidak jauh dari kedua kompleks tersebut terdapat Astana Giribangun, yang dikenal sebagai makam keluarga Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto. Kompleks ini dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg. Di Astana Giribangun dimakamkan: Presiden Soeharto. Ibu Tien Soeharto. Beberapa anggota keluarga besar Cendana. Lokasi ini dipilih karena Ibu Tien Soeharto memiliki garis keturunan dari Mangkunegara III. Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur Mangkunegaran, posisi Astana Giribangun dibuat lebih rendah daripada Astana Mangadeg. Nilai Sejarah dan Budaya Kompleks makam di Kecamatan Matesih memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena mencerminkan perjalanan Dinasti Mangkunegaran, salah satu pecahan Kerajaan Mataram Islam yang lahir setelah Perjanjian Salatiga tahun 1757. Selain menjadi tempat pemakaman, kawasan ini juga menjadi pusat pelestarian budaya Jawa. Tata bangunan, arsitektur cungkup, aturan adat, hingga keberadaan para abdi dalem masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi Mangkunegaran. Destinasi Wisata Sejarah dan Religi Setiap tahun, ribuan wisatawan dan peziarah datang ke kawasan Astana Mangadeg, Astana Girilayu, dan Astana Giribangun. Mereka datang untuk mengenang jasa para tokoh bangsa, mempelajari sejarah Jawa, maupun menikmati suasana pegunungan yang asri di lereng Gunung Lawu. Kawasan ini juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan Kabupaten Karanganyar yang melengkapi objek wisata lain seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Grojogan Sewu. Penutup Kompleks makam raja-raja di Kabupaten Karanganyar merupakan warisan budaya yang memiliki arti penting bagi sejarah Indonesia, khususnya Dinasti Mangkunegaran. Astana Mangadeg menjadi tempat peristirahatan Mangkunegara I hingga III, Astana Girilayu menjadi makam para penguasa berikutnya, sedangkan Astana Giribangun menjadi kompleks pemakaman keluarga Presiden Soeharto. Keberadaan ketiga kompleks makam tersebut menjadikan Karanganyar tidak hanya dikenal sebagai daerah wisata alam, tetapi juga sebagai salah satu pusat wisata sejarah dan religi yang menyimpan jejak panjang perjalanan kerajaan-kerajaan Jawa hingga masa Indonesia modern.

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 25 Juni 2026 BACA ANALISIS »

Sejarah Batulohe Selayar: Jejak Peradaban Maritim di Pantai Timur Pulau Selayar

Selayar : Batulohe merupakan salah satu situs alam dan sejarah yang berada di Desa Balang Butung, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Selain menawarkan panorama pantai yang indah dengan pasir putih dan tebing batu yang unik, Batulohe juga menyimpan kisah sejarah yang hingga kini masih menjadi bahan penelitian para arkeolog dan sejarawan. Asal Usul Nama Batulohe Nama Batulohe berasal dari bahasa daerah setempat, yaitu: Batu berarti batu. Lohe berarti banyak atau beraneka ragam. Dengan demikian, Batulohe dapat diartikan sebagai "kumpulan batu" atau "batu yang beraneka ragam", mengacu pada formasi tebing batu kapur yang menghiasi kawasan pantai tersebut. Diduga Menjadi Pelabuhan Kuno Menurut cerita masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, kawasan Batulohe pernah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari luar Nusantara, khususnya pedagang dari Tiongkok. Di sekitar lokasi terdapat dataran yang dipercaya sebagai bekas dermaga kuno. Masyarakat meyakini bahwa kapal-kapal dagang berlabuh di kawasan ini karena posisinya yang strategis di jalur pelayaran antara Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan wilayah Asia Timur. Relief Batu yang Menjadi Misteri Daya tarik utama Batulohe adalah tebing batu yang memiliki pola menyerupai relief atau tulisan kuno. Hingga kini belum ada kesimpulan ilmiah yang memastikan apakah pola tersebut merupakan hasil pahatan manusia atau terbentuk secara alami akibat proses geologi dan abrasi laut selama ribuan tahun. Sebagian masyarakat percaya relief tersebut menyerupai huruf-huruf Tionghoa kuno dan berfungsi sebagai penanda bagi kapal dagang yang hendak bersandar. Namun, pandangan ini masih berupa dugaan yang belum dibuktikan melalui penelitian arkeologi yang tuntas. Temuan Keramik Dinasti Ming Salah satu alasan Batulohe dianggap memiliki nilai sejarah tinggi adalah ditemukannya berbagai pecahan keramik kuno di sekitar kawasan tersebut. Beberapa keramik diduga berasal dari masa Dinasti Ming di Tiongkok. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Batulohe pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim internasional pada masa lampau, meskipun hubungan langsung antara relief batu dan aktivitas perdagangan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Legenda Sawerigading Selain kisah perdagangan kuno, Batulohe juga dikaitkan dengan legenda Sawerigading, tokoh epik dalam naskah I La Galigo. Menurut cerita masyarakat setempat, terdapat batu yang dipercaya sebagai bekas kapal Sawerigading, serta lokasi yang diyakini berkaitan dengan putrinya, We Tenri Dio. Kisah ini merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Selayar dan menjadi warisan budaya yang terus diceritakan dari generasi ke generasi. Meski demikian, kaitannya dengan fakta sejarah belum dapat dipastikan secara ilmiah. Potensi Wisata Sejarah dan Alam Saat ini Batulohe menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Wisatawan dapat menikmati: Pantai berpasir putih. Tebing batu yang unik menyerupai relief. Pemandangan laut yang jernih. Lokasi fotografi alam. Nilai sejarah dan budaya yang masih menyimpan banyak misteri. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Dinas Pariwisata telah melakukan observasi dan pemetaan kawasan ini sebagai bagian dari pengembangan destinasi wisata berbasis sejarah dan alam. Penutup Batulohe merupakan salah satu situs yang memperlihatkan perpaduan antara keindahan alam dan jejak sejarah maritim Kepulauan Selayar. Relief batu yang unik, dugaan bekas pelabuhan kuno, temuan keramik Dinasti Ming, serta legenda Sawerigading menjadikan Batulohe sebagai lokasi yang menarik untuk diteliti sekaligus dikunjungi. Walaupun beberapa kisah yang berkembang masih berupa tradisi lisan dan belum sepenuhnya dibuktikan secara arkeologis, Batulohe tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Kabupaten Kepulauan Selayar. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak fakta mengenai peran kawasan ini dalam sejarah pelayaran dan perdagangan Nusantara.

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 25 Juni 2026 BACA ANALISIS »

Kerajaan Gowa: Kerajaan Maritim yang Menguasai Perdagangan di Indonesia Timur

Makassar - Kerajaan Gowa merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Berpusat di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kerajaan ini berkembang menjadi kekuatan maritim yang menguasai jalur perdagangan di kawasan Indonesia Timur pada abad ke-16 hingga ke-17. Setelah bersatu dengan Kerajaan Tallo, kerajaan ini dikenal sebagai Kesultanan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar. Awal Berdirinya Kerajaan Gowa Menurut tradisi lisan masyarakat Makassar yang tertuang dalam Lontara, Kerajaan Gowa diperkirakan mulai berdiri pada sekitar abad ke-14. Raja pertamanya dikenal dengan nama Tumanurung Bainea, sosok yang dipercaya menjadi pendiri dinasti Kerajaan Gowa. Pada masa awal, Gowa merupakan kerajaan agraris yang kemudian berkembang menjadi kerajaan maritim karena letaknya yang strategis di pesisir barat Sulawesi Selatan. Bersatunya Gowa dan Tallo Pada abad ke-16, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo sepakat untuk bersatu melalui perjanjian yang dikenal dengan prinsip "Rua Karaeng Se're Ata" atau "Dua Raja, Satu Rakyat". Persatuan ini memperkuat kekuatan politik, ekonomi, dan militer sehingga kerajaan tersebut dikenal luas sebagai Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar. Menjadi Kerajaan Islam Islam mulai berkembang di Gowa pada awal abad ke-17 melalui dakwah para ulama dari Minangkabau, seperti Dato' ri Bandang. Raja Gowa kemudian memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin, menjadikan Gowa sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia Timur. Setelah itu, Islam berkembang pesat ke berbagai wilayah Sulawesi dan Nusantara bagian timur. Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Puncak kejayaan Kerajaan Gowa terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653–1669). Di bawah kepemimpinannya, Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari Jawa, Maluku, Sumatra, Tiongkok, India, Arab, hingga Eropa. Kerajaan Gowa menerapkan kebijakan perdagangan terbuka yang memungkinkan siapa saja berdagang di Pelabuhan Somba Opu tanpa monopoli. Kebijakan ini menjadikan Makassar sebagai pusat perdagangan terbesar di Indonesia Timur pada masanya. Perang Melawan VOC Kejayaan Gowa membuat VOC Belanda berupaya menguasai jalur perdagangan di kawasan timur Nusantara. Sultan Hasanuddin menolak monopoli VOC sehingga pecahlah Perang Makassar. Dalam perang tersebut, VOC bekerja sama dengan Arung Palakka dari Bone. Setelah pertempuran yang berlangsung sengit, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667, yang sangat membatasi kekuasaan Kerajaan Gowa. Pada tahun 1669, Benteng Somba Opu berhasil direbut VOC dan menjadi awal kemunduran kerajaan. Karena keberaniannya melawan Belanda, Sultan Hasanuddin kemudian dikenang sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dengan julukan "Ayam Jantan dari Timur". Kehidupan Ekonomi Sebagai kerajaan maritim, perekonomian Gowa bertumpu pada: Perdagangan internasional. Pelayaran dan perkapalan. Perikanan. Pertanian. Produksi rempah-rempah. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran antara Malaka, Jawa, Maluku, dan Nusa Tenggara menjadikan Makassar sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara pada abad ke-17. Peninggalan Kerajaan Gowa Hingga kini, sejumlah peninggalan Kerajaan Gowa masih dapat dikunjungi, antara lain: Benteng Somba Opu, bekas pusat pertahanan kerajaan. Museum Balla Lompoa, yang menyimpan berbagai benda pusaka kerajaan. Masjid Katangka, salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada awal abad ke-17. Kompleks Makam Raja-Raja Gowa, tempat dimakamkannya para penguasa kerajaan. Warisan Kerajaan Gowa Warisan Kerajaan Gowa masih terasa hingga sekarang melalui budaya masyarakat Makassar, tradisi pelayaran, sistem pemerintahan adat, serta semangat perjuangan Sultan Hasanuddin yang menjadi simbol keberanian bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. Selain itu, Kabupaten Gowa saat ini masih menjadi pusat pelestarian sejarah kerajaan melalui Museum Balla Lompoa dan berbagai festival budaya yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Penutup Kerajaan Gowa merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Indonesia yang memainkan peran penting dalam perdagangan, penyebaran Islam, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Berkat letaknya yang strategis dan kepemimpinan tokoh-tokoh besar seperti Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin, Gowa berhasil menjelma menjadi pusat kekuatan politik dan ekonomi di Indonesia Timur. Hingga kini, sejarah Kerajaan Gowa tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya dan identitas bangsa Indonesia.

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 25 Juni 2026 BACA ANALISIS »

Sejarah Makam Giribangun di Kabupaten Karanganyar

SIMPULNEWS.BIZ.ID// Karangayar - Makam Giribangun atau yang lebih dikenal sebagai Astana Giribangun merupakan salah satu kompleks makam paling terkenal di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kompleks makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, beserta keluarga besarnya. Selain memiliki nilai sejarah nasional, Astana Giribangun juga menjadi destinasi wisata religi dan ziarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Lokasi Astana Giribangun Astana Giribangun terletak di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35–40 kilometer sebelah timur Kota Surakarta (Solo). Kompleks makam ini berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian sekitar 660 meter di atas permukaan laut sehingga memiliki udara yang sejuk dan pemandangan alam yang indah. Awal Pembangunan Astana Giribangun Astana Giribangun dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg sebagai kompleks pemakaman keluarga Presiden Soeharto. Lokasinya dipilih tidak jauh dari Astana Mangadeg, yaitu kompleks makam keluarga Pura Mangkunegaran. Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan, karena Ibu Tien Soeharto (Siti Hartinah) memiliki garis keturunan dari keluarga Mangkunegaran III. Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur Mangkunegaran, posisi Astana Giribangun dibangun pada dataran yang lebih rendah dibandingkan Astana Mangadeg. Makam Keluarga Presiden Soeharto Pada awalnya Astana Giribangun dipersiapkan sebagai makam keluarga besar Soeharto. Setelah wafat pada tahun 1996, Ibu Tien Soeharto dimakamkan di kompleks ini. Kemudian pada tanggal 29 Januari 2008, Presiden Soeharto dimakamkan di samping istrinya dengan upacara kenegaraan yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak saat itu, Astana Giribangun semakin dikenal luas sebagai salah satu situs sejarah nasional Indonesia. Arsitektur dan Tata Ruang Kompleks Astana Giribangun dibangun dengan arsitektur tradisional Jawa yang kental. Bangunan utama berbentuk Joglo dengan ukiran khas Jawa dan menggunakan berbagai material berkualitas seperti marmer serta kayu ukir Jepara. Kawasan makam memiliki luas sekitar 4,3 hektare dan dibagi menjadi tiga cungkup utama, yaitu: Cungkup Argosari sebagai cungkup utama tempat dimakamkannya Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Cungkup Argokembang. Cungkup Argotuwuh. Selain area makam, di dalam kompleks juga terdapat masjid, pendopo, ruang peristirahatan keluarga, serta berbagai fasilitas bagi peziarah. Destinasi Wisata Religi dan Sejarah Saat ini Astana Giribangun tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemakaman keluarga Cendana, tetapi juga menjadi tujuan wisata religi, sejarah, dan edukasi. Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berdoa, mengenang perjalanan sejarah Presiden Soeharto, serta menikmati suasana tenang di kaki Gunung Lawu. Banyak tokoh nasional, pejabat negara, hingga masyarakat umum melakukan ziarah ke tempat ini. Nilai Historis bagi Kabupaten Karanganyar Keberadaan Astana Giribangun menjadikan Kabupaten Karanganyar memiliki salah satu situs sejarah nasional yang penting. Kompleks makam ini tidak hanya menyimpan jejak perjalanan keluarga Presiden Soeharto, tetapi juga mencerminkan hubungan erat antara budaya Jawa, tradisi keraton Mangkunegaran, dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia pada masa Orde Baru hingga era reformasi. Penutup Astana Giribangun merupakan simbol perpaduan antara sejarah, budaya, dan spiritualitas di Kabupaten Karanganyar. Berdiri megah di lereng Gunung Lawu, kompleks makam ini menjadi saksi perjalanan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Hingga kini, Astana Giribangun tetap menjadi tujuan ziarah dan wisata sejarah yang penting bagi masyarakat Indonesia serta menjadi salah satu ikon Kabupaten Karanganyar.

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 23 Juni 2026 BACA ANALISIS »

Sejarah Kabupaten Kepulauan Selayar: Gerbang Selatan Sulawesi yang Kaya Sejarah

Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki sejarah panjang sebagai wilayah maritim dan perdagangan. Terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi, Selayar dikenal sebagai pintu gerbang menuju kawasan timur Indonesia dan menjadi jalur pelayaran penting sejak berabad-abad lalu. Dengan kekayaan budaya, sejarah, dan sumber daya alam yang melimpah, Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki peran strategis dalam perkembangan perdagangan dan peradaban maritim Nusantara. Asal Usul Nama Selayar Nama "Selayar" diyakini berasal dari kata "Saleier" yang digunakan oleh para pelaut dan pedagang asing yang singgah di wilayah tersebut. Dalam berbagai catatan pelayaran kuno, Pulau Selayar dikenal sebagai tempat persinggahan kapal-kapal yang berlayar dari Malaka, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Posisi geografisnya yang berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Selayar sebagai daerah yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Arab, Tiongkok, Portugis, dan Belanda. Selayar pada Masa Kerajaan Sebelum Indonesia merdeka, wilayah Selayar berada di bawah pemerintahan Kerajaan Selayar yang dipimpin oleh seorang Opu atau Raja. Kerajaan ini memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan berbagai kerajaan besar di Nusantara seperti Kerajaan Gowa-Tallo di Makassar. Pada abad ke-16 hingga ke-17, Selayar menjadi salah satu daerah penting dalam jaringan perdagangan rempah-rempah. Masyarakatnya dikenal sebagai pelaut ulung yang mampu menjelajahi berbagai wilayah di Nusantara. Selain menjadi pusat perdagangan, Selayar juga berkembang sebagai pusat penyebaran agama Islam yang masuk melalui jalur perdagangan laut. Masa Kolonial Belanda Pada masa penjajahan Belanda, Selayar menjadi bagian dari wilayah administrasi Hindia Belanda. Pemerintah kolonial memanfaatkan posisi strategis Selayar sebagai titik pengawasan jalur pelayaran di Laut Flores dan Selat Selayar. Belanda membangun berbagai fasilitas pemerintahan dan pelabuhan untuk mendukung aktivitas perdagangan. Beberapa bangunan peninggalan kolonial masih dapat ditemukan hingga saat ini dan menjadi bagian dari warisan sejarah daerah. Masa Kemerdekaan Indonesia Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Selayar menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi dan kemudian masuk ke dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Melalui berbagai perkembangan administrasi pemerintahan, Selayar resmi menjadi Kabupaten Selayar. Seiring perkembangan zaman, pemerintah pusat kemudian menetapkan nama daerah ini menjadi Kabupaten Kepulauan Selayar untuk mencerminkan karakter wilayahnya yang terdiri dari gugusan pulau-pulau. Perubahan nama tersebut ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2008. Kabupaten Kepulauan Selayar Saat Ini Saat ini Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari beberapa kecamatan yang tersebar di Pulau Selayar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Wilayah ini memiliki luas daratan dan perairan yang menjadikannya salah satu daerah kepulauan penting di Sulawesi Selatan. Selayar juga dikenal sebagai pintu masuk menuju kawasan konservasi laut dunia, yaitu Taman Nasional Taka Bonerate. Kawasan ini memiliki atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Maladewa. Selain sektor pariwisata, masyarakat Selayar banyak menggantungkan hidup pada sektor perikanan, pertanian, peternakan, serta perdagangan. Warisan Budaya Selayar Masyarakat Selayar memiliki beragam tradisi budaya yang masih dilestarikan hingga sekarang. Berbagai upacara adat, seni tari tradisional, musik daerah, serta kerajinan khas menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kepulauan Selayar. Bahasa Selayar juga menjadi salah satu kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun dan masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penutup Sejarah Kabupaten Kepulauan Selayar mencerminkan perjalanan panjang sebuah daerah maritim yang telah berperan penting dalam perdagangan dan pelayaran Nusantara sejak zaman dahulu. Dengan letaknya yang strategis, kekayaan budaya yang unik, serta potensi wisata bahari yang mendunia, Kabupaten Kepulauan Selayar terus berkembang menjadi salah satu daerah penting di Sulawesi Selatan. Sebagai "Bumi Tanadoang", Kepulauan Selayar tidak hanya menyimpan keindahan alam yang memukau, tetapi juga warisan sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakatnya hingga saat ini.

âœī¸ SIMPULNEWS.BIZ.ID  •  📅 23 Juni 2026 BACA ANALISIS »